Ketua DPRD Musi Rawas di Musrenbang 2026: Ajak OPD Keluar dari Zona Nyaman demi Kesejahteraan Rakyat

MUSI RAWAS – Ada yang berbeda dalam pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Musi Rawas tahun 2026. Ketua DPRD Musi Rawas, Firdaus Cik Olah, menyampaikan pesan menohok yang menggugah kesadaran seluruh pemangku kepentingan. Bertempat di Auditorium Pemkab Musi Rawas, Selasa (31/3/2026), ia menekankan pentingnya inovasi radikal dalam perencanaan daerah.

Menolak “Teori Kegilaan” dalam Perencanaan

Dalam sambutannya yang lugas, Firdaus mengutip pesan legendaris Albert Einstein: Melakukan hal yang sama berulang-ulang namun mengharapkan hasil yang berbeda adalah sebuah kegilaan. Kutipan ini ia tujukan sebagai kritik konstruktif terhadap pola perencanaan pembangunan yang selama ini dinilai cenderung stagnan dan hanya bersifat seremonial.

“Setiap tahun Musrenbang kita laksanakan, namun perencanaannya sering kali terjebak dalam pola lama tanpa inovasi signifikan. Jika ingin hasil yang maksimal bagi kesejahteraan masyarakat, kita harus berani mengubah paradigma penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah),” tegas Firdaus di hadapan jajaran eksekutif.

Mengurai “Anomali” Ekonomi Musi Rawas

Ketua DPRD menyoroti sebuah fenomena unik yang terjadi di Musi Rawas. Meskipun angka pengangguran tergolong rendah, namun tingkat kemiskinan masih relatif tinggi dan kesejahteraan masyarakat belum merata.

Menurutnya, masalah ini tidak hanya soal data ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan isu sosial. Firdaus secara berani menyinggung perlunya memangkas kebiasaan negatif di masyarakat, seperti pengaruh penyalahgunaan narkoba, praktik judi online, hingga budaya pesta malam yang tidak produktif.

“Ini adalah tantangan kita bersama. Pembangunan fisik harus sejalan dengan perbaikan kualitas sumber daya manusia,” tambahnya.

Optimalisasi Sungai Musi: Raksasa yang Sedang Tidur

Salah satu poin krusial yang ditawarkan Firdaus adalah optimalisasi kekayaan alam, khususnya Sungai Musi dan anak sungainya. Ia menilai, potensi ekonomi dari sektor air ini belum dikelola secara maksimal untuk menghidupi warga di bantarannya.

“Sangat ironis melihat masyarakat tinggal di pinggir sungai besar namun belum merasakan dampak ekonomi dari sumber daya tersebut. Kita harus kreatif menjadikan anugerah alam ini sebagai sumber pendapatan asli daerah dan masyarakat,” jelasnya.

Solusi Cerdas di Tengah Efisiensi Anggaran

Kritik dan saran ini menjadi sangat relevan mengingat adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Musi Rawas menghadapi pemangkasan anggaran yang cukup signifikan, mencapai Rp400 miliar pada tahun 2026, yang diprediksi berlanjut hingga 2027.

Firdaus mengingatkan bahwa ketergantungan pada dana pusat harus dikurangi dengan menggali potensi pendapatan daerah secara mandiri. Tanpa terobosan baru, pembangunan dikhawatirkan akan terhambat oleh keterbatasan fiskal.

Dukungan Penuh dari Pemerintah Daerah

Acara Musrenbang 2026 ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Musi Rawas, H. Supriyatno. Kehadiran berbagai unsur seperti organisasi perangkat daerah (OPD), camat, perwakilan kepala desa, hingga unsur Forkopimda dan BUMN, menunjukkan komitmen kolektif untuk menyinergikan visi pembangunan yang lebih inovatif ke depannya.

Dengan dorongan kuat dari lembaga legislatif, Musrenbang tahun ini diharapkan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan titik balik bagi Musi Rawas untuk melompat lebih jauh menuju daerah yang mandiri dan sejahtera. (Adv)